“Happy New Year”
>>jam berdentang 12 kali
>>terompet sudah di tiup
>>kembang api sudah dinyalakan
>>kalender sudah di ganti
>>Berikutnya tanyakan dirimu apa yang mesti kau perbuat?
“Happy New Year”
>>jam berdentang 12 kali
>>terompet sudah di tiup
>>kembang api sudah dinyalakan
>>kalender sudah di ganti
>>Berikutnya tanyakan dirimu apa yang mesti kau perbuat?
hah!!!
dari mana mereka dapat klaim sepihak seperti itu?
kapan sih mereka bisa mengerti orang lain, dari dulu mereka hanya memandang sesuatu dari Kacamata mereka, sama sekali gak pernah mau mengerti dan melihat dari sudut pandang orang lain.
katanya mau membangun iklim demokrasi.
demokrasi yang mana? demokrasi siapa?
*Ehh… ada apaan sih?*
*itu si Pailul lagi latihan dialog*
*ooo.. kirain ada yang demo…*
“Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau”
Kami haturkan petikan lagu bang Iwan ini sebagai rasa kecewa yang mendalam, kepada moralitas yang tak lagi dijunjung tinggi, pada norma-norma yang terinjak-injak, pada harga diri yang terjual, pada bunglon-bunglon, kepada semua yang membuat kami kecewa mengelus dada mengusap airmata. meski harapan masih tetap ada, sedikit. selebihnya apatisme yang mengakar.
Sengaja aku bolos dari pelatihan Jurnalistik buat ngikutin kuliah yang satu ini. apalagi, gosipnya hari ini akan di adain MID semester (huhuhu…bener-bener MID yang tanpa persiapan), dampaknya jelas, aku kewalahan menjawab brondongan pertanyaan sang dosen yang diketik pada selembar kertas. sepuluh biji man!, jawabannya juga gak tunggal berupa penjelasan-penjelasan panjang (waduhh… gimana nih!!).
akhirnya aku nekad untuk tidak ber-taklid dengan lebih memilih menempuh jalan ijtihad (hihihi… bahasa lainnya ngarang bin ngawur), keasyikan me-reka-reka jawaban. akhirnya selesai juga
di sudut kiri bawah kutulis warning berikut:
” jawaban pertanyaan adalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan teori dan rumus adalah kebetulan tanpa rekayasa” hehe
“Seepp besok aku jemput jam tujuh”
“bener lho aku tunggu”
besoknya jam tujuh dia kirim sms
“sori, kamu naik bus aja ya, nanti ongkosnya saya ganti”
nah lho, gimana gak kesel, udah nungguin ternyata yang ditunggu dengan entengnya ngebatalin. udah itu bahasa “…nanti ongkosnya saya ganti” ouhh… come on man! ini bukan soal ganti rugi (untung) ongkos, tapi soal ketepatan waktu. yang bikin aku lebih kesel kenapa ngasih kabarnya udah mepet-mepet ama waktu yang di tetapin, kenapa nggak dari malam tadi, kenapa gak dari sejam-duajam yang lalu, kenapa..kenapa?? kalo udah mepet gini kan kemungkinan besar aku telat (dan akhirnya emang kebuktian). trus apa dia peduli, apa dia mikirin kalo akibat ke-ingkar-an janjinya merugikan orang lain?
Emang ada jurig penulis?
Yeee.. maksudnya bukan itu, ghost writer itu artinya manusia (juga) yang menulis untuk orang lain.
kayak surat yah? yang kita tulis terus kita kirim ke orang lain, gitu?
ahh… koq ga ngarti juga sihh… gini, ghost writer biasanya juga merupakan profesi (terutama di barat), tugas ghost writer hanya menulis sesuai pesanan. jadi dia akan menulis tentang sesuatu yang yang dipesen oleh pengguna jasanya, yang biasanya adalah para pejabat yang gak punya waktu buat nulis. tapi gak sembarangan orang bisa dipercaya buat jadi ghost writer. biasanya, pejabat yang ingin memakai jasa ghost writer ini udah paham betul karakteristik dari sang penulis, merasa cocok, lalu deal dehh…contoh kasusnya adalah pidato kenegaraan presiden, biasanya menggunakan jasa ghost writer.
nah by the way, on the way, bus way…
kemaren aku juga dapet pesenan tulisan (dari temen yang lagi in love). selembar penuh tulisan berisi ungkapan perasaan dia (temenku) ke targetnya. tapi kata-katanya aku yang ngarang ditambah sebuah puisi yang diakui sebagai ciptaannya.
aku juga heran, kenapa kok aku yang dipilih, padahal belum sekalipun aku nyoba ngungkapin perasaanku kepada someone melalui kata-kata diatas kertas. ya, aku ga PD jugha alih-alih diterima malah ditolak mentah-mentah gara-gara tulisan yang gak jelas maksudnya.
tapi ya sutralah… aku seneng juga ada yang mengakui tulisanku meskipun masih kelas ecek-ecek. siapa tahu, yaa who’s know? kalo suatu saat pengakuan itu lebih luas… ameennn…
Tahukah anda…bahwa jaring laba-laba 5 kali lebih kuat daripada lempeng baja
walah-walah… baru bisa nyambungin sekarang nihh… gapapa yak?!
wuuiiihhh udah puas tuh ngeliatin si Pernis ptilorhynchus baru aja nolehin muka ke cakrawala utara (busyeett bahasane) nampak seekor elang hitam ber-endulating-ria. Dia melakukan gerakan berputar-putar membentuk angka delapan, kata pendamping kelompok sih hal itu dilakuin oleh elang hitam untuk nandain daerah kekuasaannya. mungkin kalo pada anjing dengan cara mengencingi tempat yang diklaim jadi daerah kekuasaan dia. nah trus kalo katak cara nandain daerah kekuasaannya gimana yah? mungkin dengan cara salto-salto diudara kali yak! hihihi (bisa aku bayangin betapa lincahnya tu katak).
wahh sayangnya aku gak begitu banyak dapat data tentang species yang satu ini, soalnya penampakannya cuma sebentar udah itu dia ilang dibalik pepohonan. termasuk jenis raptor yang besar dengan warna bulu dominan hitam.

Classification
Scientific classification
Kingdom: AnimaliaPhylum: Chordata
Class: Aves
Order: Accipitriformes
Family: Accipitridae
Genus: Ictinaetus
Blyth, 1843
Species: I. malayensisBinomial name
Ictinaetus malayensis
waduhhh… gimana yah jawabnya!
tadi siang pas pelatihan jurnalistik profetik (aku juga gak tau apa artinya) seorang temen melempar sebuah pertanyaan,
“kamu mau jadi wartawan yah”?
“wah gimana yah!! (sambil cengar-cengir gak jelas), aku sih cuma pengen tau aja, emang sih aku jatuh cinta sama dunia tulis-menulis. tapi, belum kepikiran klo mesti jadi wartawan, emang kenapa?”
Baca entri selengkapnya »